<< NASEHAT JIWA >> << PITUTUR JIWO >>

<< Hargai karya orang lain, jangan "PLAGIAT" >>

Sabtu, 16 Juli 2011

M A T I - Metani Akhlak Tumindak Iro

Mencari/memeriksa/meneliti kesalahan akhlak dan tingkah laku pada diri sendiri.

Baik buruk seseorang, tidak bisa dilihat maupun dinilai saat seseorang masih diberi nafas hidup (semasa hidup). Justru saat meninggal (Wafat) itulah akan terlihat akan letak kapasitas porsi keburukan dan kebaikan.

Kalaupun dilihat dan ada penilaian, entah itu buruk maupun baik, itupun tergantung dari kreasi cara yang bersangkutan menanamkan nilai plus atau minus pada sesama insan lain, namun kebanyakan yang dilihat dan yang mendapat penilaian, pasti ada faktor penunjang hingga memunculkan penilaian sepihak.

Teramat disayangkan, penilaian tersebut hanya muncul dari apa yang dilihat melalui kulitnya saja, tanpa mau memantau, menyimak dan menelaan dari pencerminan akhlak yang diwujudkannya.
Makanya tidak terlalu heran, semasa hidup seseorang yang memiliki kelebihan, baik itu tentang jabatan, kedudukan, harta maupun keilmuan. Walau ada perbuatan negatif (merugikan) baik secara langsung maupun tidak pasti banyak yang ingin mendekat. Dan berusaha memuja serta mengelu-elukan dengan nilai plus.

Sedangkan apa yang jelas-jelas terlihat nyata tentang perbuatan buruknya. Justru berusaha dia abaikan, mereka lebih suka menutup mata, telinga serta mengunci mulut.
Hanya demi menyelamatkan dirinya, menyelamatkan karier, menyelamatkan apa yang didapat. Yang terpenting bagi mereka bisa manfaatkan waktu dan akan tetap mendapat manfaat dari penutupan dan penguncian tersebut.

Tidak terlalu heran. Semasa hidup, calon jenazah terlihat dikelilingi banyak orang, disanjung, dielu-elu dan dipuja. Baik itu dari kalangan kerabat, teman dekat atau mereka yang setia menjadi kroni dalam wujud akhlak dan tingkah laku yang keliru.
Namun saat yang bersangkutan meninggal dunia, yang terlihat justru kebalikan dari semasa hidupnya.

Diakhir masa hidupnya untuk kembali ke asalnya, justru jarang yang menjenguk (melayat), baik dari warga disekitar maupun warga diluar tempat tinggalnya. Dan yang mau menemani dalam menuju peristirahatan terakhir, yang terlihat hanya segelintir orang, berbeda jauh semasa hidupnya.

Namun seseorang yang tak dikenal, terkadang dipandang rendah dan diremehkan, ataupun bisa jadi dicemooh serta dicerca sehina-hinanya. Justru saat meninggal banyak yang mendatangi serta secara berbondong-bondong mengiringi jenazah di tempat terakhirnya diringi keduakaan yang teramat dalam.


Metani Akhlak Tumindak Iro

Inilah kunci penilaian akhir dari apa yang diwujudkan di dunia, dan bersyukurlah bagi mereka yang mau memeriksa (mencari) dan mengetahui akan perbuatan dirinya sendiri sebelum ajal menjemput.

Pada umumnya, khususnya di kalangan masyarakat jawa. Ungkapan Petan/dedes/metani yang pasti mencari kutu (TUMO) yang berada berada di rambut.
Bagi mereka yang pernah merasakan adanya kutu rambut, pasti bisa mengungkap betapa gatalnya saat rambut di jadikan sarang kutu.

Selain gatal dan panas, yang pasti kutu rambut amat mengganggu aktifitas, hingga membuat yang bersangkutan tidak bisa konsentrasi saat melakukan aktifitas yang menjadi rutinitas karena risih.
Demikian pula, saat kesalahan dalam perbuatan dan tingkah laku terwujud, yang pasti tidak akan merasakan tenang, dan selalu menjadi kendala yang mengganjal.

Selain itu. Kutu rambut juga trramat mudah ditularkan dan menyebar seenaknya, khususnya pada seseorang yang berada didekatnya. Dan terkadang pemilik kutu rambut yang asli, justru kutu rambutnya menjadi bersih, karena kutu rambut sudah berpindah ke rambut orang kedua.
Hal ini dimaksudkan, sekecil apapun wujud kesalahan yang memang nyata, teramat mudah di sebarkan pada yang lain, atau paling tidak menjadi pelimpahan kesalahan atau kambing hitam.

Kutu rambut adalah hewan yang sangat kecil, sudah pasti hewan itu sulit ditemukan secara langsung.
Demikian pula perbuatan yang pernah dilakukan semasa hidup sampai menginjak saat ini, seharusnya berusaha mencari dan mencari, entah sekecil apapun harus bisa di temukan, walau sesungguhnya teramat sulit untuk menemukan kesalahan yang pernah dilakukan. Namun tetap berusaha tanpa mengenal lelah.

Tak terpungkiri, Orang mencari kutu rambut memberi gambaran mencari sesuatu yang kecil di tengah-tengah belantara rambut. Sedangkan rambut itu sendiri memiliki perumpamaan "Roso rAsane Manungso isok-o nyeBUT" - uraian tersendiri.
Akan tetapi, pekerjaan yang sulit itupun tetap dilakukan karena tujuan akhirnya memang menemukan atau menangkap kutu rambut tersebut.
Seseorang yang berusaha mencari akan kesalahan atau kekhilafan yang pernah dia lakukan. Pasti yang bersangkutan ingin berubah dan ingin memperbaiki semua kesalahan yang pernah dilakukan. Baik yang tercermin dari akhlak dan tingkah lakunya. Dan ini merupakan kesadaran penuh, dan juga merupakan sarana untuk menempati tempat batas umurnya sebagai Husnul Khatimah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar