<< NASEHAT JIWA >> << PITUTUR JIWO >>

<< Hargai karya orang lain, jangan "PLAGIAT" >>

Minggu, 17 Juli 2011

NJEGLAK

NJEjekno Genggeme LAKu
(Menegakkan pegangan tingkah laku)

NJEGLAK merupakan salah satu istilah lain dari kata MAKAN, dan ini termasuk bahasa embongan (jalanan) .. dan boleh dibilang dan dikatagorikan sebagai bahasa kasar .. selain istilah "NJEGLAK" masih banyak lagi istilah lain atau bahasa makan yang menjadi symbol peradaban warga pribumi, khususnya warga jawa timur.
Sebagian makna dari istilah "NJEGLAK" sebenarnya sudah diuraikan pada istilah "WAROENG".

Pernahkah insan (mereka) memikirkan gerak jiwa dan rasa yang selalu menyerap energi dari segala makanan dan minuman yang menjadi kebutuhannya sehari-hari ??

Bagi insan yang tiada pernah berhenti dan bosan untuk berusaha mencari nafkah demi mencukupi kebutuhannya sehari-hari, mau mengoreksi, meneliti ataupun menelaan dengan segala hasil yang didapatkannga selama ini ??

Khususnya penghasilan yang dipakai untuk melengkapi kebutuhan pada dirinya .. atau hasil yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan komponen raga, dalam hal ini adalah makanan dan minuman yang dinikmatinya ??

Alangkah baiknya, hasil yang di dapatkan tersebut di tunjang dengan perjuangan yang baik pula .. baik itu perjuangan melalui tingkah laku maupun perjuangan melalui do'a serta ikhtiar .. dan bukan dengan mengambil jalan pintas yang merugikan insan lainnya.

Yang pasti .. pemikiran, wawasan dan ketenangan yang insan dapat ditunjang dengan makanan dan minuman yang masuk dalam raga.
Ketika hasil yang didapatkannya sudah "TERKONTAMINASI" dengan ketidak jujuran atau hanya menempuh dengan jalan singkat ..
Pemikiran, wawasan dan ketenangan yang sesungguhnya (hening), tak akan pernah diraih serta dinikmatinya dengan senyum ketenangan .. justru akan condong memikirkan hasil yang lebih namun tak mau berkorban dalam keseimbangan.

Jalan pintas (kilas) yang pasti akan bermunculan silih berganti dalam benak dan pikirannya.
Insan yang demikian, pemikiran tak akan pernah berkembang dan tak akan membawa manfaat bagi dirinya maupun bagi orang lain.
Wawasan pakerti tentang nasehat diri tak akan pernah tercapai, yang muncul hanyalah kebenaran pribadi.
Ketenangannyapun akan hilang, karena terbelenggu dengan rasa curiga dan ketidak percayaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar